Senin, 18 Agustus 2014
Tuan datang ke tempat pelabuhan yang kosong ini
Baik perkenalkan saya hanya perempuan yang ingin mendapatkan kasih sayang tulus dari seseorang, sedangkan engkau tuan, engkau adalah seseorang yang memberikan perhatian lebih kepada orang yang membutuhkan perhatiannya (saya). Tuan tiba-tiba datang ke kehidupan saya, tuan memberikan perhatian kepadaku lebih dari layaknya teman. Taukah engkau tuan? Tuan memaksa tiba di tempat pelabuhan ini, mungkin saya juga akan menerima perhatian yang engkau berikan. Tuan terlalu membuat saya nyaman, tuan selalu memperhatikan saya layaknya permaisuri diperhatikan oleh sang pangerannya. Tetapi saya bisa apa tuan? Tuan sudah ada perempuan yang telah engkau jadikan nona dihatimu. Lalu saya bisa apa tuan? Siapa yang patut disalahkan? Tuan? Nona? Atau waktu? Entahlah saya yakin Tuhan telah mempersiapkan rencana kedepannya untuk kita. Tuan cemburu kepada saya saat ada sangkut pautnya dengan laki-laki lain. Saya juga sempat cemburu kepada anda tuan. Tapi apa harus kita saling cemburu begini? Kita sama-sama tidak ada hak tuan, apalagi aku sangat tidak ada hak sama sekali untuk mencemburuimu dengan nonamu itu. Engkau begitu membuatku lupa bahkan lumpuh akan semua masa laluku, tetapi saya yakin jika saya harus berlabuh di tempat pelabuhan tuan itu sangat salah. Yang ada saya hanya melukai diri sendiri dengan kepura-puraan akan semua ini. Mungkin orang lain melihatku bahagia tetapi tidak dengan hatiku sebenarnya amat sangat berbanding terbalik dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana bisa perempuan kesepian seperti saya ini tidak luluh dengan semua perhatian yang telah engkau berikan tuan? Ketika aku menanyakan apa maksud perhatianmu seolah engkau menyalahkan saya. “kamu aja yang ngga bisa ngontrol diri”, jawabmu tuan. Mana ada perempuan yang tidak luluh hatinya dengan semua perhatian yang diberikan oleh laki-laki. Mengapa harus menyalahkan saya? Bukankah yang perhatian lebih itu anda tuan? Tuan kenapa engkau harus datang ke tempat pelabuhan ini? Tuan kenapa engkau datang ke pelabuhan ini saat engkau sudah memiliki nona? Tuan saya sangat sakit mendengar apa yang telah engkau ucapkan kepadaku tentang rasa sayang yang engkau berikan hanya sebatas sahabat, sodara. Saya pikir tuan akan berlabuh di tempat pelabuhan ini bukan di tempat pelabuhan sang nona. Bodoh ya saya sangat bodoh, berharap ya saya sangat berharap. Tetapi saya bisa apa tuan? Pernahkah kau mengerti sedikit tentang perasaanku? Pernahkah kau memikirkan perasaanku kepadamu? Pernahkah tuan? Sebenarnya apa maksud tuan untuk melukai? Kenapa tuan tidak berterus terang tentang semuanya sejak awal? Kalau begini keadaannya saya selalu diposisi yang salah. Saya takut nona akan memarah-marahi saya. Seolah-olah saya mengganggu hubungan kalian. Sedangkan tuan yang memaksa untuk datang di tempat pelabuhan ini. Saya menginginkan tuan sebagai tempat pelabuhan terakhirku, tapi saya bisa apa? Ah sudahlah itu semua hanya omong kosong yang tidak akan terjadi. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Entahlah biarkan Tuhan yang memberikan jawaban atas semua ini. Baiklah tuan, sepertinya saya akan mundur secara perlahan itu pilihan yang lebih baik. Sudahlah kini saya harus belajar hidup tanpamu tuan seperti sebelum mengenalmu.
Langganan:
Komentar (Atom)